Kamis, 14 Juni 2012

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PENGUJIAN pH, GLUKOSA, PROTEIN, KLORIDA DAN AMONIA DALAM URIN


LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI
PENGUJIAN pH, GLUKOSA, PROTEIN, KLORIDA DAN AMONIA DALAM URIN

Oleh : ALVINURA FAJRIN 4354

SMA NEGERI MOJOAGUNG
JOMBANG JAWA TIMUR
Tahun: 2011/2012


1.      Tujuan     : Untuk mengetahui pH dan zat-zat yang terkandung dalam urin.

2.      Dasar Teori
2.1  Urin
Urin atau air seni adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Ekskresi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah (Mansuratum, 2011)

2.2  Uji glukosa menggunakan larutan benedict
Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa. Uji benedict menggunakan larutan fehling ataupun benedict yang berfungsi memeriksa kehadiran gula pereduksi dalam suatu cairan.
Larutan benedict yang mengandung tembaga alkalis akan direduksi oleh gula yang mempunyai gugus aldehida dengan membentuk kuprooksida yang berwarna hijau, kuning atau merah. Fehling yang terdiri dari campuran CuSO4 dan asam tartat dan basa, akan direduksi gula pereduksi sehingga Cu akan menjadi Cu2O yang berwarna merah bata.

2.3  Uji protein melalui larutan biuret
Protein menurut Emil Fisher (1852-1919), protein merupakan senyawa majemuk yang dapat dirombak menjadi molekul-molekul kecil yang disebut asam amino.
Protein dapat diketahui dengan metode biuret. Prinsip dari metode ini adalah ikatan peptida dapat membentuk senyawa kompleks berwarna ungu dengan penambahan garam kupri dalam suasana basa (Carprette, 2005).
Reaksi biuret terdiri dari campuran protein dengan sodium hidroksida dan tembaga sulfat. Warna violet adalah hasil dari reaksi ini. Reaksi ini positif untuk dua atau lebih ikatan peptida (Hurrow, 1954).

2.4  Uji klorida menggunakan larutan AgNO3
Klorida merupakan suatu elektrolit yang memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh. Kelebihan klorida akan dikeluarkan melalui urin.
Uji klorida pada urin dapat dilakukan dengan menggunakan larutan AgNO3. Urin yang mengandung klorida akan menghasilkan endapan warna putih setelah ditetesi AgNO3. Masih dapat dikatakan normal apabila endapan yang terbentuk tipis.

2.5  Uji amonia melalui bau urin
Amonia adalah hasil diaminasi asam amino yang terjadi terutama di dalam hati. Salah satu cara pengeluarannya, dikeluarkan bersama urin. Indikator adanya amonia dalam urin ditandai dengan terciumnya bau khas yakni pesing.
Pada dasarnya, urin juga mengandung urea yang bila terhidrolisis akan terurai menjadi asam amonia.
CO(NH­2)2 + H2O à 2NH3 + CO2
Pemanasan urin, akan mempercepat reaksi ini. Walaupun tidak dipanaskan, urea dapat terhidrolisis secara alami. Amonia pada keadaan normal terdapat sedikit dalam urin segar. Sedangkan pada penderita diabetes melitus, kandungan amonia dalam urin sangat tinggi.

2.6  pH urin
Urin normal memiliki kisaran pH 4,8-7,5 sehingga bisa disebut sedikit asam. Hal ini bergantung pada konsumsi, urin lebih asam jika mengkonsumsi banyak protein. Dan lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran.

3.      Alat dan Bahan
3.1  Alat yang digunakan:
a.       5 tabung reaksi
b.      rak
c.       pipet tetes
d.      gelas kimia
e.       bunsen dan trepot
f.       kertas universal
g.       capit.

3.2  Bahan yang digunakan:
a.       urin
b.      larutan benedict
c.       larutan biuret
d.      larutan AgNO3
e.       air.

4.      Langkah Kerja
a.       Menyiapkan alat dan bahan yang dibuthkan.
b.      Menghitung pH urin pada tabung reaksi 1 dan mencatat pHnya pada tabel hasil pengamatan.
c.       Menetesi 1 ml urin pada tabung reaksi 2 dengan 5 tetes larutan benedict. Mengamati perubahan warna dan mencatat hasilnya pada hasil pengamatan. Perubahan warna terjadi setelah dipanaskan pada air panas yang terdapat pada gelas kimia yang telah dipanaskan di atas bunsen.
d.      Menetesi 1 ml urin pada tabung reaksi 3 dengan 5 tetes biuret. Mengamati perubahan warna dan mencatat hasilnya pada tabel hasil pengamatan.
e.       Menetesi 1 ml urin pada tabung reaksi 4 dengan 5 tetes larutan AgNO3. Mengamati perubahan warna dan mencatat hasilnya pada hasil pengamatan.
f.       Memanaskan 1 ml urin pada tabung reaksi 5 seperti langkah c di atas. Mencium baunya dan mencatat pada tabel hasil pengamatan.
g.       Memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
                                  i.          larutan benedict untuk uji glukosa
                                ii.          larutan biuret untuk uji protein
                              iii.          larutan AgNO3 untuk uji klorida.

5.      Hasil Pengamatan
Tabel : Data Hasil Pengamatan Perubahan Warna, Bau dan pH Urin
NO
Jenis Uji
Reagent
Warna Reagent
Perubahan Warna Urin
Bau
pH
Keterangan
Sebelum
Sesudah
1



2


3


4



5
pH



Glukosa

Protein

Klorida


Amonia
-



Benedict

Biuret


AgNO3



-
-



Biru


Biru Tua

Jernih



-
Kuning Jernih


Kuning Jernih

Kuning Jernih

Kuning Jernih


Kuning Jernih
Kuning Jernih


Hijau Keruh

Kuning Jernih

Putih Su-su Agak Licin

Kuning Jernih
Tidak Menyengat


Tidak Menyengat

Tidak Menyengat

Tidak Menyengat


Menyengat
6



-


-


-



-
Menentukan pH urin menggunakan kertas Universal

Tabung reaksi 2 dipanaskan

-


Terdapat endapan tipis di dasar tabung reaksi.


Tabung reaksi 5 hanya dipanaskan
Keteranagan kadar glukosa:
1.      biru atau sedikit kehijau-hijauan               : Kadar glukosa 0%-0.5%
2.      hijau kekuning-kuningan atau keruh         : Kadar glukosa 0,5%-1%
3.      kuning keruh                                            : Kadar glukosa 1%-1,5%
4.      jingga                                                        : Kadar glukosa 1,5%-3,5%
5.      merah jingga                                             : Kadar glukosa lebih dari 3,5%.

6.      Analisis Data
Berdasarkan data yang diperoleh dalam tabel, urin yang diuji dalam praktikum memiliki pH 6. Angka ini diperoleh dengan cara mencelupkan kertas universal pada urin. Berdasarkan landasan teori, urin yang diuji memiliki pH yang masih normal yakni masih pada kisaran 4,8-7,5. Sehingga dapat dikatakan urin tersebut memiliki sifat sedikit asam.
Dalam uji glukosa yang menggunakan benedict sebagai reagennya. Urin yang diuji mengandung sedikit glukosa dengan kadar 0,5%-1%. Hal ini didasarkan pada perubahan warna urin yang semula kuning jernih berubah menjadi hijau keruh setelah dipanaskan dan sebelumnya diberi 5 tetes benedict. Berdasarkan teori, perubahan warna ini disebabkan tembaga alkalis larutan benedict direduksi oleh gugus aldehida glukosa sehingga membentuk kuprooksida yang berwarna hijau keruh.
Dalam uji protein yang menggunakan larutan biuret sebagai reagennya. Urin yang diteliti tidak mengandung protein sama sekali. Hal ini dibuktikan dari tidak adanya perubahan warna yang terjadi pada urin setelah ditetesi dengan larutan biuret sebanyak 5 tetes. Sedangkan menurut teorinya, jika urin tersebut mengandung protein, warnanya akan berubah menjadi ungu.
Dalam uji klorida yang menggunakan larutan AgNO3 sebagai reagennya. Urin yang diuji ternyata mengandung sedikit klorida. Hal ini didasarkan pada perubahan warna urin yang semula kuning jernih berubah menjadi putih susu agak kuning setelah diberi 5 tetes larutan AgNO3. Klorida yang terkandung sangat sedikit karena endapan yang muncul pada tabung 4 sangat tipis. Berdasarkan teori, endapan yang muncul tersebut dikarenakan ion Ag+ dari AgNO3 mengikat ion Cl- dari urin.
Dalam uji amonia, urin yang diuji mengandung amonia. Hal ini terbukti dari terciumnya bau khas dari amonia tersebut yakni pesing. Sebelum urin dipanaskan, bau amonia tersebut tidak menyengat. Sedangkan setelah dipanaskan, bau amonia pada urin tercium menyengat di hidung. Berdasarkan teori yang ada, hal ini dikarenakan pemanasan urin dapat mempercepat hidrolisi urea pada urin yang akan menghasilkan amonia.

7.      Kesimpulan
Berdasarkan data dan analisisnya di atas, untuk menjawab tujuan kami menarik kesimpulan sebagai berikut.
a.       Urin yang diuji memiliki pH 6 dan dapat dikatakan memiliki sifat sedikit asam.
b.      Urin yang diuji mengandung glukosa, klorida dan amonia. Namun tidak mengandung protein.

8.      Pertanyaan
a.       Jelaskan hubungan antara fungsi ginjal dengan perubahan larutan dari eksperimen 2 dan 3. Jelaskan bagaimana endapan putih tersebut pada eksperimen 4!

Jawab:

Pada percobaan 2 yaitu uji glukosa, terapat perubahan warna urin dari kuning jernih menjadi hijau keruh. Hal itu mengindikasikan adanya glukosa pada urin. Hal ini menunjukkan fungsi ginjal yaitu rearbsorbsi pada Tubulus kontroktifus proksimal tidak berjalan maksimal karena glukosa pada urin primer yang merupakan bahan yang direabsorbsi oleh tubulus proksimal terlalu banyak. Sehingga tidak semua glukosa dapat direabsorbsi.

Pada percobaan 3 yaitu uji protein, tidak terjadi perubahan warna sama sekali pada urin. Hal itu menunjukkan fungsi filtrasi ginjal yang terdapat pada badan malpigi baik. Karena tidak ada protein yang keluar bersama urin.

Pada percobaan 4, urin yang ditetesi larutan AgNO3, akan terbentuk suatu endapan putih karena urin tersebut mengandung klorida. Hal tersebut diakibatkan karena ion Ag+ dari larutan AgNO3 mengikat Cl­- pada urin. Sehingga menghasilkan endapan putih berupa AgCl(s).

b.      Jelaskan bagaimana proses pewarnaan urin!

Jawab:

Warna kuning pada urin disebabkan zat kimia disebut urobilin. Zat ini berasal dari pemecahan pigmen empedu bilirubin. Bilirubin sendiri merupakan salah satu produk yang dihasilkan saat terjadi penguraian sel darah merah yang rusak. Sebagian besar bilirubin dipecah dalam hati, disimpan dalam kantong empedu, dipecah lagi dalam usus dan dikeluarkan melalui tinja. Sedangkan sebagian bilirubin tetap berada dalam aliran darah yang selanjutnya akan diekstrak oleh ginjal untuk dikonversi menjadi urobilin yang memberi warna kuning pada urin.

c.       Mengapa urin berbau?

Jawab:

Karena urin mengandung urea yang dapat terhidrolisis oleh air sehingga menghasilkan NH3 yang berbau kurang enak. Berkut reaksinya:
CO(NH­2)2 + H2O à 2NH3 + CO2
NH3 lah yang membuat urin berbau tidak sedap (pesing).

1 komentar:

Ragil Mu'allimah mengatakan...

mengapa urin harus dipanaskan terlebih dahulu?

Poskan Komentar