Senin, 21 Mei 2012

LAPORAN PRAKTIKUM PEMBUATAN KOLOID DAN SIFAD KOLOID


LAPORAN PRAKTIKUM
PEMBUATAN KOLOID DAN SIFAD KOLOID

Tanggal Praktikum:
24 April 2011







 

NAMA ANGGOTA KELOMPOK:
1.      Alvinura Fajrin                                    (06)
2.      Aptika Hana Prastiwi Nareswari       (08)
3.      Devirly Juwita Putri Cahyono            (13)
4.      Muhammad Fahmi Akroma               (25)
5.      Surya Bagus Sasongko Jati                 (32)
Kelas XI-IPA3


RSBI SMA NEGERI MOJOAGUNG
Jl. Raya janti No. 18 Mojoagung Jombang (61482), Telp. (0321) 495408
E-mail : sman1mojoagung@yahoo.com Fax.(0321) 492107
Website : sman-mojoagung.sch.id
2012
I.   Tujuan
1.      Untuk mengetahui cara pembuatan koloid.
2.      Untuk mengetahui sifat-sifat dari koloid.

II.   Landasan Teori
2.1     Pembuatan sistem koloid

Pembuatan sistem koloid dilakukan dengan 2 cara utama, yaitu :
a.      Cara Dispersi
Dengan cara ini, partikel koloid diperoleh dengan cara memperkecil ukuran partikel dari suspensi kasar menjadi partikel berukuran koloid. Pembuatan koloid dengan cara dispersi, dapat dilakukan melalui beberapa metode yaitu :
·          Cara Mekanik.
Pembuatan koloid  secara mekanik dilakukan dengan cara menggerus / menghaluskan partikel-partikel kasar menjadi partikel-partikel halus. Selanjutnya, didispersikan ke dalam medium pendispersi. Pada umumnya ke dalam sistem koloid yang terbentuk; ditambahkan zat penstabil yang berupa koloid pelindung. Zat penstabil ini berfungsi untuk mencegah terjadinya koagulasi.
Contoh :
Sol belerang dapat dibuat dengan cara menggerus serbuk belerang bersama-sama dengan zat inert ( misalnya gula pasir ) kemudian mencampur serbuk halus tersebut dengan air.
·        Cara Peptisasi.
Cara peptisasi adalah cara pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemecah ( zat pemeptisasi ). Zat pemeptisasi akan memecahkan butir-butir kasar menjadi butir-butir koloid.
Istilah peptisasi dihubungkan dengan istilah peptonisasi yaitu proses pemecahan protein ( polipeptida ) dengan menggunakan enzim pepsin sebagai katalisatornya.
Contoh :
o  Agar-agar dipeptisasi oleh air
o  Nitroselulosa oleh aseton
o  Karet oleh bensin
o  Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S
o  Endapan Al(OH)3 dipeptisasi oleh AlCl3.

·        Cara Busur Bredig.
Cara ini digunakan untuk membuat sol-sol logam ( koloid logam ). Logam yang akan dijadikan koloid digunakan sebagai elektrode yang dicelupkan ke dalam medium pendispersi.
Kemudian dialiri arus listrik yang cukup kuat sehingga terjadi loncatan bunga api listrik. Suhu tinggi akibat adanya loncatan bunga api listrik mengakibatkan atom-atom logam akan terlempar ke dalam medium  pendispersi ( air ), lalu atom-atom tersebut akan mengalami kondensasi sehingga membentuk suatu koloid logam.
Jadi, cara busur Bredig merupakan gabungan antara cara dispersi dan kondensasi.
Contoh : Pembuatan sol platina dalam sol emas.
·        Cara Homogenisasi.
Adalah suatu cara yang digunakan untuk membuat suatu zat menjadi homogen dan berukuran partikel koloid.
Cara ini banyak dipakai untuk membuat koloid jenis emulsi, misalnya susu.
Pada pembuatan susu, ukuran partikel lemak pada susu diperkecil hingga berukuran partikel koloid. Caranya dengan melewatkan zat tersebut melalui lubang berpori bertekanan tinggi. Jika partikel lemak dengan ukuran partikel koloid sudah terbentuk, zat tersebut kemudian didispersikan ke dalam medium pendispersinya.
·        Cara Dispersi dalam Gas.
Pada prinsipnya, cara ini dilakukan dengan menyemprotkan cairan melalui atomizer.
Menggunakan sprayer pada pembuatan koloid tipe aerosol, misalnya obat asma semprot, hair spray dan parfum.
            b.            Cara Kondensasi
Dengan cara ini, partikel larutan sejati ( molekul atau ion ) bergabung membentuk partikel koloid. Pembuatan koloid dengan cara ini dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu : cara kimia dan fisika.
                                i.            Cara Kimia.
Adalah cara pembuatan partikel koloid dari partikel larutan sejati melalui reaksi kimia meliputi :
·         Reaksi Hidrolisis.
Adalah reaksi yang terjadi antara garam dengan air. Contoh : reaksi pembentukan sol Fe(OH)3.


·        Reaksi Substitusi.
o     Pembuatan sol AgCl.
o     Pembuatan sol belerang.
o     Pembuatan sol As2S3
Melalui reaksi dekomposisi rangkap = reaksi pertukaran ion, yaitu reaksi yang digunakan untuk membuat koloid dari zat-zat yang sukar larut.

·        Reaksi Redoks.
Adalah reaksi yang melibatkan perubahan bilangan oksidasi.
o     Pembuatan sol belerang.
o     Pembuatan sol emas.

                         ii.   Cara Fisika
Adalah cara pembuatan partikel koloid dengan cara mengkondensasikan partikel melalui :
·        Penggantian Pelarut.
v Pembuatan sol belerang.
Sol belerang dalam air dapat dibuat dengan cara melarutkan belerang ke dalam alkohol hingga larutan menjadi jenuh. Selanjutnya, larutan jenuh yang terbentuk diteteskan ke dalam air sedikit demi sedikit.
v Pembuatan gel kalsium asetat.
Kalsium asetat sukar larut dalam alkohol, tetapi mudah larut dalam air. Oleh karena itu, gel kalsium asetat dibuat dengan cara melarutkan kalsium asetat dalam air sehingga membentuk larutan jenuh. Selanjutnya, larutan jenuh tersebut ditambahkan ke dalam alkohol hingga terbentuk gel.
v Pembuatan sol damar.
Damar larut dalam alkohol, tetapi sukar larut dalam air. Mula-mula damar dilarutkan dalam alkohol hingga diperoleh larutan jenuh. Selanjutnya, larutan jenuh tersebut ditambah air hingga diperoleh sol damar.

·        Pengembunan Uap.
Sol raksa ( Hg ) dibuat dengan cara menguapkan raksa. Setelah itu, uap raksa dialirkan melalui air dingin hingga akhirnya diperoleh sol raksa.
2.2  Koloid Emulsi
Emulsi adalah suatu sistem koloid yang fase terdispersinya dapat berupa zat padat, cair maupun gas, tapi kebanyakan adalah cair (contohnya : air dengan minyak). Pada umumnya emulsi kurang mantap, kemantapan emulsi dapat dilihat pada keadaannya yang selalu keruh seperti susu, santan, dsb. Untuk memantapkan emulsi diperlukan zat pemantap yang disebut emulgator.
2.3  Efek Tyndall
Efek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya yang disebabkan oleh partikel-partikel koloid. Pertama kali dikemukakan oleh John Tyndall ( 1820-1893 ), seorang fisikawan Inggris; setelah mengamati seberkas cahaya putih yang dilewatkan pada sistem koloid.
Apabila seberkas cahaya misalnya dari lampu senter, dilewatkan pada 3 gelas yang masing-masing berisi suatu dispersi, koloid dan larutan; maka jika dilihat secara tegak lurus dari arah datangnya cahaya, akan jelas terlihat bahwa cahaya yang melewati dispersi dan koloid mengalami peristiwa penghamburan dan pemantulan. Sedangkan berkas cahaya yang melewati larutan tidak akan mengalami peristiwa penghamburan dan pemantulan tersebut ( berkas cahaya diteruskan ).
Contoh peristiwa efek Tyndall :
o  Sorot lampu mobil pada malam hari yang berdebu, berasap, atau berkabut akan tampak jelas.
o  Berkas sinar matahari yang melalui celah daun pada pagi hari yang berkabut, akan tampak jelas.
o  Terjadinya warna biru di langit pada siang hari dan warna jingga atau merah di langit pada saat matahari terbenam.

III.   Alat dan Bahan

3.1  Alat
Adapun alat yang kami gunakan dalam praktikum adalah sebagai berikut.
a)      Gelas kimia
b)      Senter / laser
c)      Bunsen, kaki tiga, dan kawat kasa
d)     Tabung reaksi
e)      Gelas ukur
f)       Mortar dan lumping
g)      Pipet
h)      Spatula
i)        Batang pengadauk
3.2  Bahan
Adapun bahan yang kami gunakan dalam praktikum adalah sebagai berikut.
a)      Larutan FeCl3
b)      Belerang padat
c)      Larutan gula
d)     Susu
e)      Minyak goreng
f)       Sabun
g)      Agar –agar bubuk
h)      aquades


IV.   Prosedur
4.1  Pembuatan sol Fe(OH)3
a.       Menuangkan 25 mL aquades ke dalam gelas kimia 100 mL dan memanaskannya hingga mendidih.
b.      Menambahkan 20 tetes larutan FeCl3 jenuh. Memanaskan campuran tersebut sambil diaduk perlahan-lahan hingga terbentuk larutan berwarna cokelat merah. Hasil dari percobaan ini disimpan untuk percobaan efek tyndall.

4.2  Pembuatan sol Belerang
a.       Menyiapkan alat dan bahan.
b.      Mencampurkan sekitar 1 spatula gula pasir dan 1 spatula belerang ke dalam lumpang.
c.       Menggerus campuran gula pasir dan belerang hingga halus.
d.      Mengambil 1 spatula campuran itu (yang lainnya dibuang) dan campurkan dengan 1 spatula gula pasir. (percobaan dilakukan sampai 4 kali).
e.       Menuangkan sedikit dari campuran terakhir ke dalam gelas kimia berisi aquades 50 mL  dan aduk. Hasil dari percobaan ini digunakan untuk percobaan efek tyndall.

4.3  Pembuatan Agar-agar
a.       Mengambil 1 spatula agar-agar bubuk.
b.      Memasukkan 1 spatula agar-agar ke dalam tabung reaksi yang berisi aquades 15 mL.
c.       Dengan penjepit tabung panaskan diatas Bunsen tunggu sampai mendidih.
d.      Biarkan sampai dingin. Hasil percobaan ini digunakan untuk percobaan efek tyndall.

4.4  Pembuatan Emulsi Minyak dalam Air
a.       Memasukkan kira-kira 5 mL aquades dan 1 mL minyak goreng ke dalam tabung reaksi, kemudian guncangkan.
b.      Letakkan tabung tersebut pada rak dan amati.
c.       Memasukkan kira-kira 5 mL aquades, 1 mL minyak goreng dan 1 mL detergen/sabun ke dalam tabung reaksi, kemudian guncangkan.
d.      Letakkan tabung tersebut pada rak dan amati. Hasil percobaan ini digunakan untuk percobaan efek tyndall.

4.5  Efek Tyndall
a.       Mengamati interaksi zat-zat seperti ; aquades, larutan gula, susu, sol Fe(OH)3 dan sol belerang, dengan cahaya.
b.      Menulis hasil pengamatan dalam sebuah tabel.
No.
Sampel
Pengamatan berkas sinar
1.
Aquades

2.
Larutan gula

3.
Susu

4.
Sol Fe(OH)3

5.
Sol belerang

6.
Agar-agar

7.
Emulsi





V.   Data Pengamatan
5.1     Pembuatan Sol Fe(OH)2


Tabel 1: Data Pengamatan Saat Pembuatan Sol Fe(OH)3
No
Pengamatan
Sebelum
Sesudah
1



2




3
Menuangkan 25ml aquades kedalam gelas kimia 100 ml dan memanaskan hingga mendidih.

Setelah air mendidih, menambahkan 20 tetes larutan FeCl3 jenuh.


Memanaskan campuran tersebut sambil terus diaduk perlahan – lahan hingga terbentuk larutan bewarna cokelat kemerahan. mengamati hasilnya
air :
Berwarna jernih


Air mendidih :
Berwarna jernih dan terbentuk gelembung udara

FeCl3:
Campuran berwarna coklat tua.
Warna air :
Baerwarna jernih


Air mendidih +FeCl3 :
Berwarna merah bata dan terbentuk gelembung udara























5.2     Pembuatan Sol Belerang
No
Pengamatan
Sebelum
Sesudah
1







2







3
Mencampurkan satu spatula gula pasir dan satu spatulabelerang padat ke dalam lumpang. Kemudian menggerus campuran gula dan belerang sampai halus.



Mengambil satu spatula campuran gula dan belerang yang sudah dihaluskan, mencampur campuran  tersebut dengan satu spatula gula, lalu dihaluskan kembali (melakukan sampai 4 kali).

Kemudian campuran terakhir di tuangkan sedikit ke dalam gelas kimia yang diisi 50 ml aquades dan di aduk
Gula pasir : Berupa butiran kristal putih yang belum halus.

Belerang: Berupa serbuk berwarna kuning.


Gula pasir + belerang halus + gula pasir : Berupa serbuk halus yang berwarna kuning pucat.




Gula pasir  +belerang hasil gerusan: Berupa serbuk kuning yang sangat pucat.

Aquades : Warnanya jernih.
Gula pasir : +belerang setelah digerus: Berupa serbuk halus yang berwarna kuning pucat.



Gula pasir + belerang setelah digerus : Berupa serbuk kuning yang makin pucat warnanya.



Gerusan gula pasir dan belaerang + aquades: Membentuk campuran yang berwarna putih keruh dan ada endapan berwarna kuning di dasar gelas kimia (saat dibiarkan agak lama).
Tabel 2: Data Pengamatan Saat Pembuatan Sol Belerang









5.3    Pembuatan Agar –agar

Tabel 3: Data Pengamatan Saat Pembuatan Agar-agar.
No
 Pengamatan
Sebelum
Sesudah
1




2





3






4
Mengambil satu spatula agar-agar bubuk


Kemudian  memasukkan dalam tabung reaksi yang berisi aquades 5 ml


Kemudian memaanaskan di atas Bunsen menggunakan penjepit sampai mendidih.

Menunggu sampai dingin
Agar- agar bubuk:
Berupa serbuk halus yang berwarna merah jambu.

Aquades :
Berwarna jernih.




Agar – agar bubuk + aquades:
Berupa campuran yang berwujud cair dan warnanya merah.


Agar-agar bubuk + aquades panas :
Berbentuk cairan kental yang berwarna merah.





Agar – agar bubuk+ aquades:
Berupa campuran yang berwujud cair dan warnanya merah.

Agar – agar bubuk + aquades mendidih:
Berbentuk cairan kental yang berwarna merah.


Agar – agar bubuk + aquades dingin:
Berbentuk padat dan menjadi agar-agar siap santap.


5.4       Pembuatan Emulsi Minyak dalam Air

Tabel 4 : Data Pengamatan Saat Pembuatan Emulsi Minyak Dalam Air
No
Pengamatan
Sebelum
Sesudah
1







2
Memasukan 5ml aquades dan 1ml minyak kedalam tabung reaksi dan kemudian mengocok campuran tersebut.


Memasukan 5ml aquades, 1ml minyak, dan 1ml sabun ke dalam tabung reaksi dan kemudian mengocok campuran tersebut.
Aquades:
Berwarna jernih.

Minyak goreng :
Berwarna kuning jernih.



Aquades:
Berwarna jernih.

Minyak goreng :
Berwarna kuning jernih.

Sabun :
Berbentuk cair kental dan berwarna hijau.
Aquades + Minyak goreng:
Air dan minyak goreng tidak tercampur. Kedudukan minyak goreng di permukaan air.




Aquades + Minyak goring + Sabun :
Minyak goreng dapat tercampur rata dalam air. Namun bila didiamkan dapat terbentuk suatu zat berwarna kuning pucat yang mengumpul di permukaan. Serta terdapat buih yang menyelimuti gumpalan itu.


5.1     Efek Tyndal

Tabel 5: Data Pengamatan Efek Tiyndal dari Beberapa Macam Campuran
No
Sampel
Pengamatan Berkas Sinar Laser
1


2


3

4

5

6

7
Aquades


Larutan gula


Susu

Sol Fe(OH)3

Sol belerang

Agar-agar

Emulsi minyak dalam air
Cahaya laser menembus sempurna (tidak terjadi penghamburan cahaya)

Cahaya laser menembus sempurna (tidak terjadi penghamburan cahaya)

Cahaya laser dihamburakan namun dapat menembus.

Cahaya laser dihamburakan namun tidak dapat menembus.

Cahaya laser dihamburakan namun dapat menembus.

Cahaya laser dihamburakan namun dapat menembus.

Cahaya laser dihamburakan namun tidak dapat menembus.










VI.   Analisis Data
6.1   Pembuatan Sol Fe(OH)3
Dalam praktikum pembuatan sol Fe(OH)3 yang kami lakukan, proses pembuatannya dengan cara kondensasi yang dilakukan melalui reaksi hidrolisis. Reaksi hidrolisis merupakan suatu reaksi garam dengan air. Cara kondensasi itu sendiri bekerja dengan menggabungkan ion-ion dari larutan sejati sehingga membentuk partikel yang lebih besar seperti ukuran partikel koloid (1-100 nm).
Dalam hal ini, yang akan digabungkan adalah ion Fe3+ dari larutan FeCl3 dan ion OH­­- dari aquades (H2O). Dalam prosedur yang dilakukan, air kami didihkan terlebih dahulu agar larutan FeCl3 dan H2O dapat lebih cepat terionisasi dan bereaksi. Berikut merupakan reaksi ionisasi dari FeCl3 dan H2O.
FeCl3        Fe3++ 3Cl-

H2O          OH- + H+

Berbicara mengenai reaksi hidrolisis antara garam dan H2O. Maka reaksi tersebut dapat ditebak akan menghasilkan basa lemah dan/ atau asam lemah. Dalam konteks yang kami praktikumkan, garam yang digunakan adalah FeCl3 yang apabila akan mengalami reaksi hidrolisis akan membentuk suatu ikatan basa lemah Fe(OH)3 dan bersisa ion-ion H+ yang membuat campuran tersebut asam. Karena tidak mungkin ion-ion H+ akan berikatan dengan ion-ion Cl- yang akan membentuk suatu ikatan asam kuat. Untuk lebih jelasnya berikut reaksinya:
FeCl3(aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3Cl(aq) + 3H+(aq)

Dalam praktikum yang kami lakukan, hal yang digunakan sebagai indikator bahwa reaksi tersebut sudah berlangsung ketika sudah terjadi perubahan warna campuran yang semula merah bata menjadi berwarna coklat tua. Dan apabila hal itu sudah terjadi, maka dapat dikatakan bahwa sol Fe(OH)3 yang merupakan sol cair dari fase terdispersi padat dan medium pendispersi cair telah selesai dibuat.

6.2  Pembuatan Sol Belerang
Dalam praktikum pembuatan sol belerang yang kami lakukan, proses pembuatannya dengan cara dispersi yang dilakukan melalui cara mekanik. Cara dispersi itu sendiri bekerja dengan mengubah ukuran partikel suspensi (>100nm) menjadi pertikel dengan ukuran partikel koloid (1-100 nm).
Cara mekanik yang dilakukan dalam hal ini dilakukan dengan cara menggerus belerang dengan menggunakan lumpang bersama gula pasir. Gula pasir digunakan untuk membantu mempermudah dalam proses penghalusan partikel-partikel belerang yang berukuran suspensi menjadi parttikel-partikel ukuran koloid. Penghalusan dilakukan karena tidak mungkin bahwa suatu koloid terbentuk dari partikel-partikel yang berukuran suspensi. Karena bila dicampur dengan air tidak akan larut alias mengendap.
Setelah melakukan prosedur sesua petunjuk, didapatkan serbuk belerang + gula yang kemudian dicampuri 50 ml aquades sebagai medium pendispersi. Setelah itu terbentulah jadilah sol belerrang merupakan sol cair dari fase terdispersi padat dan medium pendispersi cair.
Apabila didiamkan agak lama, koloid yang kami buat akan membentuk suatu endapan yang pada dasarnya suatu koloid tidak akan mengendap/ memisah jika didiamkan. Berdasarkan pemikiran kelompok kami, hal ini terjadi karena kesalahan dalam proses penumbukan/ penghalusan serbuk belerang dengan gula pasir. Kami rasa kelompok kami kurang halus dalam menumbuknya sehingga partikel-partikel yang ukurannya ingin diperkecil sampai ukuran koloid tidak berhasil secara maksimal.

6.3  Pembuatan Agar-agar
Dalam praktikum pembuatan agar-agar yang kami lakukan, proses pembuatannya dengan cara dispersi yang dilakukan melalui cara peptiasi. Cara peptiasi ini menggunakan zat pemeptiasi yaitu air untuk memecah molekul-molekul besar dalam hal ini serbuk agar-agar supaya menjadi molekul-molekul kecil ukuran koloid. Cara dispersi itu sendiri bekerja dengan mengubah ukuran partikel suspensi (>100nm) menjadi pertikel dengan ukuran partikel koloid (1-100 nm).
Sebelumnya agar-agar yang dimasukkan ke dalam air tidak mau larut dikarenakan ukuran partikel-partikel dari agar-agar sangat besar berukuran suspensi sehingga bila terbentuk gumpalan-gumpalan dalam air. Oleh karena itu, dilakukan peptiasi (pemecahan molekul-molekul agar-agar) dengan cara memanaskan campuran air dan agar-agar sampai mendidih dan selama proses pemanasan terus dilakukan pengadukan.
Setelah mendidih maka, bisa dikatakan molekul-molekul agar-agar yang besar pecah menjadi molekul-molekul yang berukuran koloid sehingga ketika didiamkan akan mengeras. Hal ini dikarenakan zat cair yang ada (air) dapat diserap oleh zat padatnya (serbuk agar-agar). Peristiewa tersebut dinamakan gelasi dan agar-agar yang terbentuk dapat digolongkan sebagai koloid jenis gel.


6.4  Pembuatan Emulsi Minyak dalam Air
Dalam praktikum pembuatan emulsi minyak dalam air, sebelumnya didahului dengan praktik pencampuran 1ml minyak dengan 5 ml air. Namun minyak tidak dapat larut dalam air karena air bersifat polar sedangkan minyak bersifat non polar. Sehingga minyak tidak dapat bercampur dengan air. Mengenai kedudukan minyak yang berada di permukaan air. Hal ini disebabkan oleh massa jenis minyak yang lebih kecil dari pada massa jenis air. Sehingga kedudukan minyak dan air seperti itu.
Dalam praktikum yang kedua, kami membuat emulsi minyak dalam air dengan cara mencampurkan 1 ml minyak, 5ml air, dan 1 ml sabu. Kemudian campuran tersebut dapat bercampur. Hal ini dikarenakan sabun yang memiliki rumus kimia C17H35OONa memiliki kepala yang bersifat polar dan ekor yang bersifat non polar. Kepala yang polar itu sendiri tersusun atas OO­-Na+ yang bermuatan dan ekornya tersusun atas C17H­35 yang tidak bermuatan.
Ketika sabun dimasukkan kedalam campuran minyak dan air yang kemudian dikocok. Maka susunan sabun yang tersusun atas kepala dan ekor akan beraksu. Kepala yang bersifat polar akan mengikat molekul air yang bersifat polar juga. Sedangkan bagian ekor yang bersifat non polar akan mengikat molekul minyak yang bersifat non polar juga. Sehinggaminyak seakan-akan larut dalam air.
Dalam praktikum ini, sabun disebut sebagai emulgator karena dapat menggabungkan dua buah fese yang tidak bisa bersatu. Campuran yang terbentuk dari peristiwa tersebut tergolong emulsi cair karena fase terdispersi (minyak) berwujud cair dan fase pendispersinya (air) juga berwujud cair.
  
6.5  Efek Tyndall
Efek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya yang disebabkan oleh partikel-partikel koloid. Dalam praktikum kami, bahan yang digunakan untuk praktek tergolong sebagai larutan sejati dan koloid. Yang termasuk larutan sejati adalah aquades dan larutan gula. Sedangkan yang termasuk koloid adalah susu, sol Fe(OH)3, sol belerang, agar-agar dan emulsi minyak dalam air.
Ketika aquades dan larutan gula di sentrong pakai sinar laser. Maka cahaya dapat menembus larutan tersebut dengan sempurna dikarenakan partikel-partikel larutan sejati yang berukuran sangat kecil (<1 nm) tidak mampu menghalangi cahaya yang menembus sehingga tidak terjadi penghamburan cahaya.
Sedangkan ketika koloid (susu, sol Fe(OH)3,  sol belerang, agar-agar dan emulsi minyak dalam air) di sentrong dengan menggunakan cahaya laser maka cahaya tersebut dapat dihamburkan. Karena partikel-partikelnya cukup besar untuk menghamburkan cahaya karena partikel-partikelnya berukuran antara 1-100nm. Sehingga cahaya laser dapat dihamburkan.
Efek tyndal sendiri merupakan salah satu sifat dari koloid karena koloid mempunyai partikel-partikel yang cukup besar untuk menghamburkan cahaya yakni 1-100 nm.



VII.   Kesimpulan

VIII.   Pertanyaan

1.      Percobaan apakah yang termasuk pembuatan koloid dengan cara dispersi?
2.      Percobaan apakah yang termasuk pembuatan koloid dengan cara dispersi?
3.      Apa yang terjadi saat aquades yang dipanasi ditetesi larutan FeCl3 jenuh? Tuliskan persamaan reaksi yang terjadi!?
4.      Belerang praktis tidak larut dalam air. Jelaskan prinsip pembuatan sol belerang? Apa fungsi gula dalam proses tersebut?
5.      Agar-agar sebenarnya tidak larut dalam air. Jelaskan prinsip pembuatan agar-agar?
6.      Sebenarnya air tidak bercampur dengan minyak Jelaskan bagaimana sabun dapat membuat air dan minyak membentuk emulsi? Apa fungsi sabun atau detergen dalam proses tersebut?
7.      Pada percobaan efek tyndall,
a.       Mengapa larutan menyebabkan cahaya meneruskan sinar? Sedangkan koloid menghamburkannya?
b.      Dari sampel yang diuji, manakah yang termasuk koloid?
c.       Sebutkan contoh pembuatan koloid dengan cara kondensasi melalui cara kimia dan fisika dengan cara dispersi melalui mekanik, peptiasi dan busur bredig? (masing-masing 1).

2 komentar:

Mega Jannah mengatakan...

lengkap (y)

Alvinura Fajrin mengatakan...

makasih :)

Poskan Komentar