Senin, 21 Mei 2012

Laporan Praktikum Kimia “ Menentukan pH Asam Basa dengan Menggunakan Beberapa Indikator dan Titrasi Asam Basa”


Laporan Praktikum Kimia
Menentukan pH Asam Basa dengan Menggunakan Beberapa Indikator dan Titrasi Asam Basa





    Nama Anggota Kelompok :
1.      Alvinura Fajrin                                                (06)
2.      Aptika Hana Prastiwi Nareswari       (08)
3.      Cindy Septyani                                                (10)
4.      Desy Puja Kurnia Arista                    (12)
5.      Devirly Juwita Putri Cahyono           (13)
 Kelas XI-IPA 3


   RSBI SMA NEGERI MOJOAGUNG
Jl. Raya janti No. 18 Mojoagung Jombang (61482), Telp. (0321) 495408
E-mail : sman1mojoagung@yahoo.com Fax.(0321) 492107
Website : sman-mojoagung.sch.id
2012

I.       Judul Praktikum
1.      Percobaan 1
“Menentukan pH Asam Basa dengan menggunakan beberapa indikator”
2.      Percobaan 2
“Titrasi Asam Basa”

II.    Tujuan Praktikum
1.      Percobaan 1
a.       Menentukan sifat larutan asam dan basa.
b.      Menentukan pH suatu larutan dengan menggunakan trayek pH beberapa indikator.
c.       Menentukan pH suatu larutan dengan kertas indikator universal.

2.      Percobaan 2
a.       Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH titrasi asam basa.
b.      Menentukan kadar Asam Asetat (CH3COOH) dalam cuka.

III. Dasar Teori
1.      Percobaan 1
Untuk mengetahui sifat asam dan basa dari larutan dapat dilakukan dengan menggunakan indikator asam basa dan pH meter. Indikator asam basa adalah zat yang mengandung suatu zat yang dapat menunjukkan warna yang berbeda pada lingkungan asam maupun basa. Beberapa indikator asam basa yang biasa digunakan antara lain kertas lakmus dan larutan indikator.
Larutan indikator yang serong digunakan adalah fenoftalein (PP), metil merah (MM), metil jingg (MJ), dan bromtimol biru (BTB). Larutan indikator biasa digunakan dalam laboratorium untuk titrasi larutan. Penggunaan larutan indikator pada titrasi larutan harus dengan ketelitian pengamatan yang tinggi karena terkadang perubahan warnanya hanya dengan 0,1 mL.

2.      Percobaan 2
Titrasi merupakan salah satu cara untuk menentukan konsentrasi larutan suatu zat dengan cara mereaksikan larutan tersebut dengan zat lain yang diketahui konsentrasinya.
Prinsip dasar titrasi asam basa didasarkan pada reaksi nertalisasi asam basa. Titik equivalen pada titrasi asam basa adalah pada saatdimana sejumlah asam tepat di netralkan oleh sejumlah basa. Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH. pH pada titik equivalen ditentukan oleh sejumlah garam yang dihasilkan dari netralisaasi asam basa.Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah yang memiliki rentang pH dimana titik equivalen berada.
Pada umumnya titik equivalen tersebut sulit untuk diamati, yang mudah dimatai adalah titik akhir yaang dapat terjadi sebelum atau sesudah titik equivalen tercapai. Titrasi harus dihentikan pada saat titik akhir titrasi tercapai, yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik akhir titrasi tidak selalu berimpit dengan titik equivalen. Dengan pemilihan indikator yang tepat, kita dapat memperkecil kesalahantitrasi.
Pada titrasi asam kuat dan basa kuat, asam lemah dan basa lemah dalam air akan terurai dengan sempurna. Oleh karena itu ion hidrogen dan ion hidroksida selama titrasi dapat langsung dihitung dari jumlah asam atau basa yang ditambahkan. Pada titik equivalen dari titrasi asam air, yaitu sama dengan 7.

IV. Alat dan Bahan
1.      Percobaan 1
a.       Pipet tetes
b.      Pelat tetes
c.       Gelas kimia
d.      Kertas lakmus merah dan biru
e.       Kertas indikator universal
f.       Larutan indikator MM, PP, BTB
g.      Larutan CH3COOH
h.      Larutan NaOH
i.        Larutan NH4OH
j.        Larutan HCl

2.      Percobaan 2
a.       Buret
b.      Erlenmeyer
c.       Gelas ukur
d.      Corong
e.       Statif
f.       Pipet tetes
g.      Larutan NaOH dengan konsentrasi yang sudah diketahui konsentrasinya
h.      Larutan HCl dengan konsentrasi yang belum diketahui
i.        Cuka
j.        Indikator Phenolptalein
k.      Aquades


V.    Langkah Kerja
1.      Percobaan 1
a.       Indikator Kertas Lakmus
-          Ambil kertas lakmus letakan pada pelat tetes dan tetesilah dengan larutan diatas (Larutan CH3COOH , NaOH , NH4O, HCl dan H2O)!
-          Amati perubahan warna dan catat hasilnya !

b.      Indikator MM, MJ, BTB, dan PP.
-          Ambil plat tetes dan isilah dengan keempat larutan diatas (Larutan CH3COOH , NaOH , NH4O, Hcldan H2O)  masing-masing sebanyak 2 tetes!
-          Tetesi larutan di atas masing-masing dengan indikator sebanyak 1 tetes, amati dan catat hasilnya!

c.       Indikator Kertas Universal
-          Ambil kertas indikator unuversal celupkan pada larutan yang diuji (Larutan CH3COOH , NaOH , NH4O, Hcldan H2O)!
-          Letakkan dan cocokan di pita warna pH!
-          Amati dan catat hasilnya!

d.      Indikator Alami
-          Ekstrakkan bahan-bahan alami yang akan digunakan sebagai indikator asam basa (kulit manggis, kunyit, kulit jeruk, cabai, bunga melati, bunga eforbia, daun pandan suji, bunga mawar, dan daun sirih)!
-          Teteskan larutan yang diuji dengan ekstrak bahan-bahan alami yang sudah dibuat!
-          Amati dan catat hasilnya!

2.      Percobaan 2
a.    Penentuan konsentrasi HCl
-          Isi buret dengan larutan NaOH dan catat pembacaan buret.
-          Masukan 20 mL larutan HCl ke dalam erlenmeyer
-          Tambahkan 3 tetes larutan fenolftalein
-          Lakukan titrasi dengan cara meneteskan larutan NaOH dari buret ke dalam labu erlenmeyer menjadi merah muda dan warna itu tidak menghilang jika diguncangkan
-          Catat volume NaOH yang digunakan
-          Ulangi percobaa 2-3 kali

b.    Penentuan kadar cuka
-          Isi buret dengan larutan NaOH dan catat pembacaan buret
-          Masukan 10mL larutan cuka ke dalam erlenmeyer
-          Tambahkan 2 tetes larutan fenolftalein
-          Lakukan titrasi dengan cara meneteskan NaOH dari buret ke dalam labu erlenmeyer sambil diguncangkan, penetesan larutan NaOH dihentikan jika larutan dalam erlenmeyer menjadi merah muda dan warna itu tidak menghilang jika erlenmeyer diguncangkan
-          Datat volume NaOH yang digunakan
-          Ulangi percobaan 2-3 kali.






















VI. Data Pengamatan
1.      Percobaan 1
a.       Indikator Kertas Lakmus

Tabel 1.
Warna kertas lakmus setelah ditetesi larutan yang diuji
No
Larutan
Warna kertas lakmus setelah ditetesi
Sifat Larutan
Lakmus Merah
Lakmus Biru
1.
HCl
Merah
Merah
Asam
2.
CH3COOH
Merah
Merah
Asam
3.
NaOH
Biru
Biru
Basa
4.
NH4OH
Biru
Biru
Basa
5.
H2O
Merah
Biru
Netral

b.      Indikator MM, MJ, BTB, dan PP.

Tabel 2.
Perkiraan pH larutan yang diuji setelah ditetesi larutan indikator
No
Larutan
Warna Indikator
Perkiraan pH
Sifat Larutan
MM
MJ
BTB
PP
1.

HCl
Merah muda
Merah
Kuning
Jernih
< 3,7
Asam
2.

CH3COOH
Merah muda
Orange
Kuning
Jernih
3.7 - 4.2
Asam
3.

NaOH
Kuning
Kuning
Biru
Merah muda
Ø 
> 9,6
 
Basa
4.

NH4OH
Kuning
Orange
Biru
Jernih
7.6 - 9.6
Basa
5.

H2O
Orange
Kuning
Hijau
Jernih
6.0 – 6.8
Netral

c.       Indikator Kertas Universal

Tabel 3.
pH larutan yang diuji berdasarkan kertas universal
No.
Nama Larutan
pH
Sifat Larutan
1.
HCl
1
Asam
2.
CH3COOH
3
Asam
3.
NaOH
13
Basa
4.
NH4OH
9
Basa
5.
H2O
7
Netral

d.      Indikator Alami


Tabel 4.
Warna larutan yang diuji setelah ditetesi indikator alami
No.
NamaIndikator
Larutan Yang Diuji
CH3COOH
NaOH
NH4OH
HCl
H2O
1
Kulit Manggis
Oranye
Coklat
Coklat
Merah Muda
Coklat Muda
2
Kunyit
Kuning
Coklat
Coklat
Kuning
Oranye
3
Kulit Jeruk
Kuning
Kuning Tua
Kuning
Kuning
Kuning
4
Cabai
Oranye
Oranye
Oranye
Oranye
Oranye
5
Bunga Melati
Merah Muda
Hijau Kekuningan
Hijau
Hijau
Ungu
6
Bunga Eforbia
Merah Muda
Hijau
Coklat Kekuningan
Merah Muda
Merah Muda
7
Daun Pandan Suji
Hijau
Hijau
Hijau
Hijau
Hijau
8
Bunga Mawar
Ungu
Hijau
Merah
Ungu
Ungu
9
Daun Sirih
Hijau
Hijau
Hijau
Hijau
Hijau

2.      Percobaan 2
a.       Penentuan konsentrasi HCl

Tabel 4.
Konsentrasi HCl berdasarkan titrasi
Percobaan ke-
Volume NaOH (mL)
Konsentrasi HCl
Awal (V1)
Akhir (V2)
Terpakai
 (V2-V1)
1
0
25
25
0,11 M
2
25
44,5
19,5
0,09 M
3
44,5
77,5
23
0,10 M
Jumlah rata-rata
22,5
0,1 M

b.      Penentuan kadar cuka

Tabel 5.
Konsentasi CH3COOH berdasarkan titrasi
Percobaan ke-
Volume NaOH (mL)
Konsentrasi cuka
Awal (V1)
Akhir (V2)
Terpakai
 (V2-V1)
1
0
31,5
31,5
0,29 M
2
31,5
61
30,5
0,28 M
3
61
92
31
0,29 M
Jumlah rata-rata
31
0,29 M
VII.   Pembahasan
1.      Percobaan 1
a.       Indikator Kertas Lakmus
Kertas lamus merupakan salah satu indikator asam basa. Pada percobaan kami dengan indikator kertas lakmus di atas, kertas lakmus merah maupun lakmus biru yang warnanya berubah menjadi merah setelah ditetesi suatu larutan, menunjukkan bahwa larutan tersebut merupakan larutan yang bersifat asam. Dalam percobaan ini yang merupakan larutan asam adalah HCl dan CH3COOH.
Kertas lakmus merah maupun lakmus biru yang warnanya berubah menjadi biru setelah ditetesi suatu larutan, menunjukkan bahwa larutan tersebut merupakan larutan yang bersifat basa. Dalam percobaan ini yang merupakan larutan basa adalah NaOH dan NH4OH.
Sedangkan kertas lakmus merah maupun lakmus biru yang warnanya tidak berubah (tetap) setelah ditetesi suatu larutan, menunjukkan bahwa larutan tersebut merupakan larutan yang bersifat netral. Dalam percobaan ini yang merupakan larutan netral adalah H2O.

b.      Indikator MM, MJ, BTB dan PP.
Suatu larutan asam maupun basa juga dapat diketahui dengan menggunakan larutan indikator MM, MJ, BTB dan PP. Selain itu, kita juga dapat memperkirakan pH yang dimiliki oleh suatu larutan dengan menggunakan larutan indikator ini. Untuk memperkirakan pH suatu larutan, dapat digunakan diagram panah.
Perkiraan pH larutan HCl:
PP
 


BTB
 
MJ
 
MM
 


0                3,7             4,2          6,0      8,0                                         14

Dari diagram panah di atas, maka dapat disimpulkan bahwa HCl memiliki perkiraan pH 0 – 3,7 dan merupakan larutan yang bersifat asam.
        Dengan cara yang sama, kelompok kami dapat mengetahui perkiraan pH masing masing larutan dan sifatnya yakni:
1. HCl memiliki perkiraan pH 0 – 3,7 dan merupakan larutan yang bersifat asam.
2. CH3COOH memiliki perkiraan pH 3,7 -4,2 dan merupakan larutan yang bersifat asam.
3. NaOH memiliki perkiraan pH 9,6 – 14 dan merupakan larutan yang bersifat basa.
4. NH4OH memiliki perkiraan pH 7,6 – 9,6 dan merupakan larutan yang bersifat basa.
5. H2O memiliki perkiraan pH 6,0 – 6,8 dan merupakan larutan yang bersifat netral.

c.       Indikator Kertas Universal
Kertas indikator ini memiliki keakuratan yang lebih baik dibandingkan indikator-indikator lainnya. Kertas ini memiliki 4 warna yang berfungsi untuk mencari pH larutan. Cara kerjanya adalah dengan mencelupkan kertas ini ke larutan yang akan dihitung pH nya. Kemudian warna pada kertas ini akan berubah dan selanjutnya kita harus mencocokkannya dengan warna pH tertentu.Setiap nilai pH memiliki warna yang berbeda-beda.
Dari percobaan kami, kita dapat mengetahui pH larutan yang kami uji dan sifatnya, yaitu:
1. Larutan HCl memiliki pH 1 dan bersifat asam
2. Larutan CH3COOH memiliki pH 3 dan bersifat asam
3. Larutan NaOH memiliki pH 13 dan bersifat bas
4. Larutan NH4OH memilki pH 9 dan bersifat bas
5. Larutan H2O memiliki pH 7 dan bersifat netral.

d.      Indikator Alami
Dari semua ekstrak bahan alami yang kami gunakan, tidak semuanya dapat digunakan sebagai indikator alami untuk menentukan sifat asam dan basa dari suatu larutan. Karena tidak semuanya dapat membedakan mana larutan yang bersifat asam dan mana larutan yang bersifat basa.
Menurut analisa kami, bahan alami yang dapat digunakan sebagai indikator asam basa adalah kulit manggis, kunyit, bunga eforbia, dan buga mawar. Dan yang lainnya seperti kulit jeruk, cabai, bunga melati, daun pandan suji dan daun sirih tidak dapat digunakan sebagai indikator asam basa.
Berdasarkan percobaan kami, kami dapat memberikan pernyataan sebagai berikut:
1. Jika suatu larutan diteteskan ke ekstrak kulit manggis yang berwarna coklat muda dan warna ekstraknya tidak berubah setelah ditetesi. Maka dapat disimpulkan bahwa larutan tersebut bersifat basa. Sedangkan jika suatu larutan diteteskan ke ekstrak kulit manggis dan warna ekstraknya berubah, maka dapat disimpulkan bahwa larutan tersebut bersifat asam.
2. Jika suatu larutan diteteskan ke ekstrak kunyit yang waranya orange dan  warna ekstraknya berubah menjadi lebih cerah setelah ditetesi. Maka dapat disimpulkan bahwa larutan tersebut bersifat asam. Sedangkan jika suatu larutan diteteskan ke ekstrak kunyit dan  warna ekstraknya berubah menjadi lebih gelap setelah ditetesi. Maka dapat disimpulkan bahwa larutan tersebut bersifat basa.
3. Jika suatu larutan diteteskan ke ekstrak bunga eforbia yang berwarna merah muda dan warna estraknya tetap merah muda setelah ditetesi. Maka dapat disimpulkan bahwa larutan tersebut bersifat asam. Sedangkan jika suatu larutan merubah warna ekstrak bunga eforbia setelah diteteskan, maka dapat disimpulkan bahwa larutan tersebut bersifat basa.
4. Jika suatu larutan diteteskan ke ekstrak bunga mawar yang berwarna ungu dan warna ekstraknya tidak berubah setelah ditetesi. Maka dapat disimpulkan bahwa larutan tersebut bersifat asam. Sedangakan jika suatu larutan mengubah warna ekstrak bunga mawar setelah ditetesi, maka dapat disimpulkan bahwa larutan tersebut bersifat basa.

2.      Percobaan 2

Dalam percobaan titrasi asam basa yang telah kami lakukan (Titrasi HCl/ CH3COOH dengan zat titran NaOH) diperoleh data sebagai berikut.

                             Reaksi :  NaOH + HCl                  NaCl + H2O
                                                 mmol ion H+ = mmol ion OH-
                                           NaOH + CH3COOH           CH3COONa + H2O

          Dari reaksi di atas dapat diketahui bahwa perbandingan mol antara HCl dan NaOH sama sehingga untuk menghitung konsentrasi dari larutan HCl yang didasarkan atas hasil percobaan, maka dapat digunakan persamaan berikut ini.
                                                                        V1 . M1 = V2 . M2
Keterangan:
M1 = molaritas asam (HCl/ CH3COOH)
M2 = molaritas basa kuat (NaOH)
V1 = volume asam
V2 = volume basa

           Dalam percobaan titrasi yang pertama,  20 ml HCl dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer, kemudian ditambahkan 3 tetes penoftalein (PP). 50 ml NaOH 0,095 M dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes ke dalam labu erlenmeyer yang sudah diisi larutan HCl tadi hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai.
           Dalam percobaan ini, kami melakukannya 3 kali, dan memperoleh 3 data volume NaOH yang diperlukan untuk menitrasi 20 ml HCl. Dari data volume tersebut kemudian kami rata-ratakan dan hasilnya adalah diperlukan 22,5 ml NaOH untuk menitrasi 20 ml HCl.
           Dari data tersebut, kami dapat mengetahui perkiraan konsentrasi HCl. Yakni :

                                                MHCl     =
                                                                 =
                                                           = 0,1 M

Jadi, konsentrasi HCl adalah 0,1 M

           Sedangkan dalam percobaan titrasi yang kedua,  10 ml CH3COOH dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer, kemudian ditambahkan 3 tetes penoftalein (PP). 50 ml NaOH 0,095 M dimasukkan ke dalam buret, kemudian dibiarkan menetes setetes demi setetes ke dalam labu erlenmeyer yang sudah diisi larutan CH3COOH tadi hingga indikator berubah warna atau titik akhir titrasi tercapai.
           Dalam percobaan ini, kami melakukannya 3 kali, dan memperoleh 3 data volume NaOH yang diperlukan untuk menitrasi 10 ml CH3COOH. Dari data volume tersebut kemudian kami rata-ratakan dan hasilnya adalah diperlukan 31 ml NaOH untuk menitrasi 10 ml CH3COOH.
           Dari data tersebut, kami dapat mengetahui perkiraan konsentrasi CH3COOH. Yakni :

                                                                        MCH3COOH            =
                                                                                                        =
                                                                                                        = 0,29 M
                                               
Jadi, Konsentrasi CH3COOH adalah 0,29 M.

                        Selain itu, kami juga dapat mengetahui kadar cuka yang kami gunakan dalam perceobaan kami tersebut, yakni:
                                                                        Kadar cuka          =   x 100%
                                                                                                        =  x 100%
                                                                                                        = 1,7 %

                                        Jadi, kadar CH3COOH yang kami pakai dalam percobaan adalah 1,7 %

Namun dalam percobaan yang kami lakukan, terdapat ketidakakuratan yang terjadi dikarenakan oleh beberapa hal, antara lain:
1. Kurang telitinya dalam melakukan proses titrasi
2. Adanya kebocoran pada alat titrasi
3. Kurang memadainya alat titrasi, terletak pada angka ketelitian alat.
4. Kurangnya ketelitian dalam memperhatikan perubahan warna indikator. 
5. Kurang bersihnya dalam mencuci peralatan yang ada.


























VIII.    Pertanyaan
1.      Percobaan 1
a.       Sebutkan sifat-sifat asam, basa, dan netral?

Jawab:

1.      Sifat asam
-          Memiliki pH kurang dari 7.
-          Rasanya asam.
-          Bersifat korosif, yaitu merusak logam dan marmer.
-          Membuat kertas lakmus merah dan lakmus biru memiliki warna merah setelah ditetesi dengan larutan asam.

2.      Sifat basa
-          Memiliki pH lebih dari 7.
-          Rasanya pahit.
-          Bersifat kaustik yaitu dapat merusak kulit.

1 komentar:

DESI ALDILASARI- mengatakan...

desialdilasari@apps.ipb.ac.id
desialdilasari.student.ipb.ac.id

Poskan Komentar